Melanglang di Malang: Part 2

Sore hari di Kos Jaksa Agung, kita bersih-bersih badan. Setelah itu memesan makanan via gofood. Makanan yang aku pesan semacam penyet telur dengan harga Rp8.000,- dan ongkos kirim Rp4.000,- dibagi dua jadi Rp2.000,-. Setelah selesai makan akupun tidur. Karena jam 12 malam kita akan memulai trip lagi, jadi kita harus istirahat supaya ketika jalan-jalan badan kita sudah fit. Tapi fakta tidak selalu sesuai ekspektasi. Sekitar habis isya kita ingin mencari makanan yang segar-segar. Keluarlah kita untuk mencari makanan semacam bakmi atau yang lainnya. kita tidak keluar jauh, hanya berkeliling di sekitar komplek. Tapi kita tidak menemukan apa yang kita inginkan. Ujung-ujungnya kembali ke kos dan minta dibuatkan mie rebus sama penjaga kos.

Sekitar jam 00.30 WIB, driver dari biro sudah menjemput dan pastinya kitapun sudah siap. Perjalanan kali ini kita bergabung dengan open trip karena pertimbangan budget yang minim. Untuk Open Trip Bromo kita cukup mengeluarkan uang sebesar Rp250.000,-. Karena open trip, jadi kita bergabung dengan rombongan lain. Rombongan lain yang bareng kita berasal dari Jogja. Ternyata kalau ikut open trip kita bisa mendapatkan bonus. Bonusnya adalah berkenalan dengan orang baru dan menambah teman, hehe. Mereka adalah Rachel, Albi, Faiz, dan Jidan. Rachel ini sebenarnya dari Jakarta yang ingin liburan di Malang, dan Albi adalah pacar Rachel yang tinggal di Jogja. Nah, kalau si Faiz dan Jidan adalah teman Albi yang menemani Rachel dan Albi, semacam guide selama di Malang. Faiz dan Jidan ini kayak Upin Ipin, kemana-mana bareng berdua, hahaha.

Ikut open trip itu seru, tidak seperti yang sebelumnya aku bayangkan. Aku mengira kalau open trip itu bakal tidak asik karena barengan sama rombongan lain. Pasti tidak puas, tidak bebas, dan pasti akan ada perdebatan mengenai waktu ataupun destinasi. Tapi ternyata bayangankanku terbantahkan semua setelah bertemu mereka. Kita kompak banget dan tidak ada perdebatan sama sekali. Pokoknya seru banget deh.

Dari kos-kosan kita dijemput menggunakan mobil biasa. Setelah Mas Driver menjemput aku, kita menuju ke penginapan Rachel dkk yang tidak jauh dari Kos Jaksa Agung. Perjalanan dari Kota Malang menuju Basecamp Bromo memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sampai di basecamp kita mengganti kendaraan dengan jeep, tentunya ganti driver juga.

Saking ngantuknya akupun tertidur pulas di dalam jeep. Kata yang lain, “Gila! Si Rosa kok bisa ya tidur di saat offroad begini. Pules lagi”. Agak menyesal sih karena ketiduran, jadi cuma sebentar merasakan sensasi offroadnya. Berhubung kita trip di hari libur jadi ramai banget. Berasa lagi konvoi pakai jeep. Ada juga yang naik motor. Aku melihat orang-orang yang naik motor njagani karena lagi-lagi mereka kepleset, apalagi yang naik motor matic, rasanya kasihan. Tapi aku yakin banget mereka pasti senang dan enjoy. Dan mungkin itulah sensasi yang mereka cari.

Karena banyaknya orang yang nge-trip dan menimbulkan kemacetan, jeep kitapun tidak bisa parkir di dekat bukit yang akan kita tuju. Alhasil kita jalan kaki agak jauh untuk menuju bukit. Sebelum naik ke bukit kita menghangatkan diri terlebih dahulu, ngopi di warung. Dan kebetulan di warungnya ada tungku, lumayan bisa untuk menghangatkan tangan.

Setelah cukup menghangatkan diri, kita langsung mendaki bukit yang bisa dibilang tidak terlalu tinggi. Yaps, kita berada di Bukit Pandang di mana ketika kita berada di bukit tersebut, kita akan menyaksikan sebuah pemandangan nan menakjubkan. Gunung Bromo, itulah pemandangan yang kita saksikan ketika berada di bukit itu. Saat baru sampai di bukit, keadaan memang masih gelap karena belum ada sinar mentari yang menyinari. Pemandangan di atas langitpun cantik sekali, banyak bintang bertaburan. Di bawah, nampak lampu-lampu jeep yang juga mengitari Gunung Bromo menuju ke bukit tempat kita berada. Meskipun gelap, tetapi gunungnya terlihat jelas dan memberikan kesan keren. Suasana di bukit itu pun begitu ramai.

Setelah menunggu sekitar satu jam, sunrise pun perlahan muncul dan menambah nilai estetika dari pemandangan yang ada. Begitu nikmat keindahan yang aku rasakan waktu itu. Tuhan memang Maha Indah. Sinar mentari yang semakin menunjukkan keeksisannya membantu bumi menampakkan warnanya. Kehangatan yang dibawa olehnya memeluk kita semua yang kedinginan. Meskipun kita tidak berada di puncak bukitnya, tapi bagi aku itu sudah cukup indah bahkan indah sekali.

Setelah puas menikmati pemandangan dari atas bukit, aku bersama rombongan menuju destinasi berikutnya, yaitu kawah. Namun, jeep tidak terparkir di dekat kawah. Kita harus naik kuda untuk menuju anak tangga pendakian Gunung Bromo. Karena naik kuda itu tidak ramah dengan kantongku, jadi aku tidak tertarik untuk menuju ke kawah. Dan ternyata temen-temen yang lainpun tidak tertarik juga untuk pergi ke kawah, haha. Di tempat jeepku terparkir, ada balon udara besar sekali. Kalau menurutku, ada balon udara di kawasan ini cukup mengganggu pemandangan. Tapi, ya tidak apa-apa juga karena itu mungkin sudah menjadi jalan rejeki untuk mereka.

Berhubung di rombongan kita tidak ada yang ke kawah, jadi kita tidak menghabiskan waktu lama di sana. Kita langsung menuju Pasir Berbisik dan offroad lagi. Offroad kali ini lebih seru dibandingkan waktu malam karena di siang hari kita bisa melihat langsung medannya. “Ya ampun, ini mana jalannya? pasir semua”, “eh ada tanjakan”, “emang bissaa?”, dan wuhuuuu.. kita melewatinya, hahaha. Di Pasir Berbisik ini ada rombongan yang sedang melakukan upacara kemerdekaan. Aku terharu sekali melihatnya. Aku sama Mega mau ikutan. Tapi pas kita sampai sana, mereka sudah mau selesai. Entah kenapa, aku kalau mendengar lagu Indonesia Raya bawaannya merinding haru. Oh iya, alasan tempat ini disebut Pasir Berbisik karena ketika ada angin bertiup, deru angin akan membawa butiran-butiran pasir bagaikan sedang membisikkan sesuatu, sssstttt. Awal mula istilah ini muncul ketika ada film yang berjudul Pasir Berbisik dan tempat ini dijadikan lokasi shooting film tersebut. Aku juga baru tahu ternyata ada film Pasir Berbisik setelah aku searching di mbah jujel, dan ternyata salah satu castnya Dian Sastrowardoyo. Selesai menulis ini, aku jadi ingin menonton filmnya, hehe.

Dari Pasir Berbisik kita menuju Padang Savana also known as Bukit Teletubbies. Tapi dalam perjalanan menuju Padang Savana, kita kecantol pada sebuah tempat bagian dari Padang Savana yang rumputnya kering. Rumput kering inilah yang membuat tempat ini menjadi instagramable. Di tempat ini kameraku mulai lowbat, jadi tidak banyak gambar yang kita ambil. Alhasil ketika di Padang Savana pun aku mengambil gambar menggunakan smartphone. Tidak kalah kece kok hasilnya. Di Padang Savana banyak pedagang yang menyajikan dagangannya, ada makanan ada juga pakaian. Sempat tergoda ingin membeli kaos, tapi harganya cukup mehong dan untungnya tidak ada yang menarik hati. Padang Savana ini berupa bukit yang lapang dan indah. Itulah alasannya banyak orang yang menyebutnya Bukit Teletubbies.

2 komentar:

  1. bagian terseru adalah ketika tidur pas offroad >•< kocak banget caaa!!! wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa.. berasa anak bayi yg ditidurin pake dondangan :D

      Hapus

Introduction

Assalamualaikum semua, selamat datang di Jejak Rosa. Nama aku Rosalia Yunisa. Keluargaku biasa memanggilku Rosa tapi teman-temanku le...