Sore hari di Kos Jaksa Agung, kita
bersih-bersih badan. Setelah itu memesan makanan via gofood. Makanan yang aku pesan semacam penyet telur dengan harga
Rp8.000,- dan ongkos kirim Rp4.000,- dibagi dua jadi Rp2.000,-. Setelah selesai
makan akupun tidur. Karena jam 12 malam kita akan memulai trip lagi, jadi kita
harus istirahat supaya ketika jalan-jalan badan kita sudah fit. Tapi fakta
tidak selalu sesuai ekspektasi. Sekitar habis isya kita ingin mencari makanan
yang segar-segar. Keluarlah kita untuk mencari makanan semacam bakmi atau yang
lainnya. kita tidak keluar jauh, hanya berkeliling di sekitar komplek. Tapi
kita tidak menemukan apa yang kita inginkan. Ujung-ujungnya kembali ke kos dan
minta dibuatkan mie rebus sama penjaga kos.
Sekitar jam 00.30 WIB, driver dari biro sudah menjemput dan
pastinya kitapun sudah siap. Perjalanan kali ini kita bergabung dengan open trip karena pertimbangan budget yang minim. Untuk Open Trip Bromo kita cukup mengeluarkan
uang sebesar Rp250.000,-. Karena open
trip, jadi kita bergabung dengan rombongan lain. Rombongan lain yang bareng
kita berasal dari Jogja. Ternyata kalau ikut open trip kita bisa mendapatkan bonus. Bonusnya adalah berkenalan
dengan orang baru dan menambah teman, hehe. Mereka adalah Rachel, Albi, Faiz,
dan Jidan. Rachel ini sebenarnya dari Jakarta yang ingin liburan di Malang, dan
Albi adalah pacar Rachel yang tinggal di Jogja. Nah, kalau si Faiz dan Jidan
adalah teman Albi yang menemani Rachel dan Albi, semacam guide selama di Malang. Faiz dan Jidan ini kayak Upin Ipin,
kemana-mana bareng berdua, hahaha.
Ikut open
trip itu seru, tidak seperti yang sebelumnya aku bayangkan. Aku mengira kalau
open trip itu bakal tidak asik karena
barengan sama rombongan lain. Pasti tidak puas, tidak bebas, dan pasti akan ada
perdebatan mengenai waktu ataupun destinasi. Tapi ternyata bayangankanku
terbantahkan semua setelah bertemu mereka. Kita kompak banget dan tidak ada
perdebatan sama sekali. Pokoknya seru banget deh.
Dari kos-kosan kita dijemput menggunakan
mobil biasa. Setelah Mas Driver menjemput aku, kita menuju ke penginapan Rachel
dkk yang tidak jauh dari Kos Jaksa Agung. Perjalanan dari Kota Malang menuju Basecamp Bromo memakan waktu sekitar 1,5
jam. Sampai di basecamp kita
mengganti kendaraan dengan jeep, tentunya ganti driver juga.
Saking ngantuknya akupun tertidur pulas
di dalam jeep. Kata yang lain, “Gila! Si Rosa kok bisa ya tidur di saat offroad begini. Pules lagi”. Agak menyesal sih karena ketiduran, jadi cuma sebentar
merasakan sensasi offroadnya.
Berhubung kita trip di hari libur jadi ramai banget. Berasa lagi konvoi pakai
jeep. Ada juga yang naik motor. Aku melihat orang-orang yang naik motor njagani karena lagi-lagi mereka kepleset, apalagi yang naik motor matic, rasanya kasihan. Tapi aku yakin
banget mereka pasti senang dan enjoy.
Dan mungkin itulah sensasi yang mereka cari.
Karena banyaknya orang yang nge-trip dan
menimbulkan kemacetan, jeep kitapun tidak bisa parkir di dekat bukit yang akan
kita tuju. Alhasil kita jalan kaki agak jauh untuk menuju bukit. Sebelum naik
ke bukit kita menghangatkan diri terlebih dahulu, ngopi di warung. Dan kebetulan
di warungnya ada tungku, lumayan bisa untuk menghangatkan tangan.
Setelah cukup menghangatkan diri, kita
langsung mendaki bukit yang bisa dibilang tidak terlalu tinggi. Yaps, kita
berada di Bukit Pandang di mana ketika kita berada di bukit tersebut, kita akan
menyaksikan sebuah pemandangan nan menakjubkan. Gunung Bromo, itulah
pemandangan yang kita saksikan ketika berada di bukit itu. Saat baru sampai di
bukit, keadaan memang masih gelap karena belum ada sinar mentari yang
menyinari. Pemandangan di atas langitpun cantik sekali, banyak bintang
bertaburan. Di bawah, nampak lampu-lampu jeep yang juga mengitari Gunung Bromo menuju
ke bukit tempat kita berada. Meskipun gelap, tetapi gunungnya terlihat jelas
dan memberikan kesan keren. Suasana di bukit itu pun begitu ramai.
Setelah menunggu sekitar satu jam, sunrise pun perlahan muncul dan menambah
nilai estetika dari pemandangan yang ada. Begitu nikmat keindahan yang aku
rasakan waktu itu. Tuhan memang Maha Indah. Sinar mentari yang semakin
menunjukkan keeksisannya membantu bumi menampakkan warnanya. Kehangatan yang
dibawa olehnya memeluk kita semua yang kedinginan. Meskipun kita tidak berada
di puncak bukitnya, tapi bagi aku itu sudah cukup indah bahkan indah sekali.
Setelah puas menikmati pemandangan dari
atas bukit, aku bersama rombongan menuju destinasi berikutnya, yaitu kawah.
Namun, jeep tidak terparkir di dekat kawah. Kita harus naik kuda untuk menuju
anak tangga pendakian Gunung Bromo. Karena naik kuda itu tidak ramah dengan
kantongku, jadi aku tidak tertarik untuk menuju ke kawah. Dan ternyata
temen-temen yang lainpun tidak tertarik juga untuk pergi ke kawah, haha. Di
tempat jeepku terparkir, ada balon udara besar sekali. Kalau menurutku, ada balon udara di kawasan ini cukup
mengganggu pemandangan. Tapi, ya tidak apa-apa juga karena itu mungkin sudah menjadi
jalan rejeki untuk mereka.
Berhubung di rombongan kita tidak ada
yang ke kawah, jadi kita tidak menghabiskan waktu lama di sana. Kita langsung
menuju Pasir Berbisik dan offroad
lagi. Offroad kali ini lebih seru
dibandingkan waktu malam karena di siang hari kita bisa melihat langsung
medannya. “Ya ampun, ini mana jalannya? pasir semua”, “eh ada tanjakan”, “emang
bissaa?”, dan wuhuuuu.. kita melewatinya, hahaha. Di Pasir Berbisik ini ada
rombongan yang sedang melakukan upacara kemerdekaan. Aku terharu sekali melihatnya.
Aku sama Mega mau ikutan. Tapi pas kita sampai sana, mereka sudah mau selesai.
Entah kenapa, aku kalau mendengar lagu Indonesia Raya bawaannya merinding haru.
Oh iya, alasan tempat ini disebut Pasir Berbisik karena ketika ada angin
bertiup, deru angin akan membawa butiran-butiran pasir bagaikan sedang
membisikkan sesuatu, sssstttt. Awal mula istilah ini muncul ketika ada film
yang berjudul Pasir Berbisik dan tempat ini dijadikan lokasi shooting film tersebut. Aku juga baru
tahu ternyata ada film Pasir Berbisik setelah aku searching di mbah jujel,
dan ternyata salah satu castnya Dian Sastrowardoyo. Selesai menulis ini, aku
jadi ingin menonton filmnya, hehe.
Dari Pasir Berbisik kita menuju Padang
Savana also known as Bukit Teletubbies.
Tapi dalam perjalanan menuju Padang Savana, kita kecantol pada sebuah tempat
bagian dari Padang Savana yang rumputnya kering. Rumput kering inilah yang
membuat tempat ini menjadi instagramable.
Di tempat ini kameraku mulai lowbat,
jadi tidak banyak gambar yang kita ambil. Alhasil ketika di Padang Savana pun
aku mengambil gambar menggunakan smartphone.
Tidak kalah kece kok hasilnya. Di Padang Savana banyak pedagang yang menyajikan
dagangannya, ada makanan ada juga pakaian. Sempat tergoda ingin membeli kaos,
tapi harganya cukup mehong dan
untungnya tidak ada yang menarik hati. Padang Savana ini berupa bukit yang
lapang dan indah. Itulah alasannya banyak orang yang menyebutnya Bukit Teletubbies.
bagian terseru adalah ketika tidur pas offroad >•< kocak banget caaa!!! wkwkkw
BalasHapusHahahaa.. berasa anak bayi yg ditidurin pake dondangan :D
Hapus