Melanglang di Malang: Part 1



Kamis malam alias malam Jumat, aku dan Mega dianter mapa ke Stasiun Pekalongan. Kereta kita jalan jam 20.36 WIB. Perjalanan kereta malam ekonomi yang berhenti berkali-kali dengan waktu yang lama cukup bikin bosan. Akhirnya aku menuju restorasi sekalian untuk makan makanan yang sudah aku bawa dari rumah. Tapi ternyata di restorasi kita harus beli makanan dari sana dan tidak boleh membawa makanan dari luar. Damn! Perasaan biasanya naik kereta lain boleh boleh saja, atau biasanya tidak ketahuan. Tapi biasanya mbak-mbak pramugari tahu kok. What everlah, pokoknya alhasil aku balik lagi ke tempat dudukku. Namanya kereta ekonomi, pasti tempatnya agak sempit. Jadi, akupun susah untuk bisa tidur. Apalagi rombongan di sebelah berisik mululu. Padahal segerbong udah pada tidur dan kalaupun tidak tidur, ya diam. Eh mereka nyerocos aja. Perjalanan malam pula, kalau siang sih tidak masalah.

Sampailah kita di Stasiun Malang sekitar pukul 8 WIB. Tentunya kita tidak lupa untuk berfoto terlebih dahulu sebelum beranjak meninggalkan stasiun. Kalau dilihat dari penumpangnya, banyak mereka yang membawa carrier dan pastinya tidak hanya aku yang berfoto-foto ria. Aku sempet berbincang sedikit dengan salah satu rombongan yang membawa carrier. Ternyata mereka berkelana dari Jakarta jauh ke Malang bertujuan untuk mendaki di Gunung Arjuno, keren juga. Sayangnya mereka baru balik ke Jakarta di hari Senin, sedangkan aku balik ke Pekalongan hari Minggu. Jadi, tidak bisa bareng satu kereta lagi, hehe.
Stasiun Malang Kota Baru

Setelah puas mengambil gambar, kita beranjak mencari masjid untuk bersih-bersih badan. Btw aku ada tips nih untuk teman-teman backpackers. Kalau kebetulan traveling di hari Jumat, mampirlah ke masjid. Karena banyak masjid yang menyediakan makanan gratis, hehe. Tidak lama waktu yang kita habiskan di masjid. Kita langsung menuju Tugu Malang. Sama seperti Tugu Semarang, di Tugu Malang juga terdapat kolam yang mengelilingi tugunya. Bedanya, kolam Tugu Malang lebih luas dan ada pagarnya. Jadi, kita tidak bisa bermain air kecipak-kecipuk.

Tugu Malang

Dari Tugu Malang kita beralih ke Alun-Alun Malang. Karena Mega tidak suka jalan kaki, jadi kita order taksi online. Tapi, ujungnya kita tetap jalan untuk nyamperin drivernya karena area tugu merupakan zona merah bagi mereka. Gila ya, entah kita yang dikibulin atau memang rule di sana seperti itu, parkiran tempat drivernya mangkalpun kita yang membayar. Di Alun-Alun Malang kita duduk istirahat dan tidak lupa untuk foto-foto. Masuk jam makan siang, kita mengkonsumsi makanan kemasan “ciki”. Karena jajan yang kita bawa untuk cemilan di kereta masih banyak, dari pada tidak kemakan kita jadikan saja menu makan siang. Menikmati suasana alun-alun sambil makan ciki.


Alun-Alun Kota Malang

Setelah menikmati ciki dan alun-alun, kita berkunjung ke sebuah kampung yang hits banget di Malang dan menjadi inspirasi bagi kota-kota lain untuk membangun kampung-kampungnya yang kumuh. Yaps, kampung Warna. Untuk masuk ke Kampung Warna kita cukup membayar tiket dengan harga Rp3.000,- perorang, murah kan. Selain Kampung Warna, ada juga kampung 3D. kedua kampung ini dihubungkan dengan jembatan kaca. Aku dan Mega sempat menyeberangi jembatan itu. Tapi ternyata untuk masuk ke kampung 3D kita harus bayar lagi. Akhirnya kita balik lagi deh, wkwkwk. Irit apa pelit sih?


Tiket Masuk Kampung Warna

Siang hari di Malang memang panas banget. Si Mega kayak udah kecapean. Tapi tetap aku paksa untuk ke kampung berikutnya yang juga tidak kalah beken. Untuk menuju ke kampung ini, kita harus berjalan menyeberangi jalan raya dan jembatan besar. Meskipun begitu, tetap aku paksa karena aku yakin banget dia tidak bakal menyesal kalau sudah sampai.

Beneran dong, si Mega langsung minta difotoin begitu sampai. Tapi kegirangan aku melebihi Mega, baaangett. Bagaimana aku tidak girang, that is Kampung Biru. Semuanya biru. Ibarat kata, mata melek bujan ijo lagi tapi biru. Secara biru itu warna favoritku. Sampai-sampai ada salah satu story di akun instagramku yang kalau aku buka sekarang, aku merasa diriku lebay gile. Pokoknya Kampung Biru ini kece abis. Untuk masuk ke Kampung Biru, kita tidak mengeluarkan uang sama sekali. Entah karena kita tidak lewat pintu masuk atau memang gratis, idk.


Kegiranganku saat di Kampung Biru

Dari Kampung Biru kita menuju kos-kosan yang bakal jadi tempat istirahat kita. Sesampainya di kos-kosan kita langsung check in dan tempatnya cucok abis. Buat manusia yang suka foto-foto instagramable, cocok banget menginap di sana kalau lagi ke Malang. Banyak spot foto di kos-kosan ini. Hampir setiap sudut bangunan memenuhi kriteria instagramable. Aku juga cukup kagum dengan desain bangunannya. Dari luar memang seperti rumah biasa bahkan rumah jadul bangunan khas belanda. Tapi setelah masuk, beehh.. penataan ruangnya cukup bagus. Sampai ke talang-talangnya dan saluran airpun bagus banget. Dibangun kekinian ala instagramable dengan pencahayaan yang oke, tapi tidak menghilangkan bagian-bagian penting seperti talang dan saluran air tadi. Meskipun shared toilet, jumlah toilet di bangunan ini ada banyak, jadi tidak bakal antri. Kamarnya juga nyaman banget, adem, kasurnya empuk, hahaa. Untuk harga, standar tarif kos-kosan dan sesuai dengan fasilitas yang ada. Aku tidak bilang murah karena aku pernah menemukan kos-kosan yang lebih murah waktu di Lamongan, hahaha.


Salah Satu Tempat Santuy di Kos Jaksa Agung

4 komentar:

  1. love thiss :* list harga dong hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Milea! :)
      oh iya, di cerita ini aku nggak nyantumin harga tiket kereta dan penginapan.
      tiket kereta pekalongan-malang : Rp103.000,- (ekonomi)
      tugu malang : free
      alun-alun malang : free
      kampung warna : Rp3.000,-/orang
      kampung biru : free
      penginapan : Rp43.000,-/orang
      makan : optional.
      Semoga list harga dariku bermanfaat ya! hehe

      Hapus
  2. Ku kiraa budget nya gedee...pas nanya...jadi pgn ...hhheee

    BalasHapus

Introduction

Assalamualaikum semua, selamat datang di Jejak Rosa. Nama aku Rosalia Yunisa. Keluargaku biasa memanggilku Rosa tapi teman-temanku le...