Pangandaran: May Day


Tanggal 1 Mei 2019 bertepatan dengan hari buruh. Menurut wikipedia, hari buruh atau biasa disebut May Day merupakan hari perayaan atas keberhasilan buruh yang menuntut haknya. Karena may day itu tidak melulu soal demo, merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial buruh bisa dilakukan dengan cara lain bukan? piknik misalnya. Karyawan di tempat kerja papaku merencanakan untuk berlibur ke Pangandaran dengan menyewa satu bus wisata. Berhubung mama belum pernah ke Pangandaran dan dari jaman muda pengen banget ke Pangandaran, akhirnya kita sekeluarga ikut. Tapi kita bawa kendaraan sendiri karena tidak ingin mengganggu karyawan. You know when your bos is in your bus, pasti bakal canggung kan hahahaa.

Karena papa nyupir sendiri jadi sampai Pangandaran harus langsung istirahat, makanya kita berangkat lebih awal. Kita berangkat sekitar jam 18.30 WIB via jalur selatan enggak lewat jalan tol. Sempet berhenti di SPBU buat makan malam. Kita makan lesehan karena udah bawa bekal dari sebelum berangkat, biasa kan kalau pergi sama emak pasti lengkap bawaannya, hehe.

Selesai makan dan sholat di SPBU kita melanjutkan perjalanan. Sampai di Purbalingga kita disambut dengan kabut yang begitu tebal. Jarak pandang cuma sekitar 5 meter, untung papa udah expert banget nyupirnya. Cukup menegangkan, secara itu adalah pertama kalinya aku lihat kabut setebel itu sampai jalan nggak kelihatan. Malah ketika muncak di gunung belum pernah ketemu kabut setebel itu. Tapi setelah melewati kabut itu seolah-olah kita dibayar dengan pemandangan indah yang sekaligus bikin tenang. Lampu-lampu penduduk yang menyala bagai bintang dan itu menandakan ada kehidupan di sekitar jalan, haha.

Berhubung papa pertama kali ke Pangandaran via jalur selatan jadi kita pakai bantuan google maps. Meskipun udah pakai google maps, kita tetap berkali-kali nanya ke orang karena takut nyasar. Maklum nggak sepenuhnya percaya sama google maps. Gimana mau percaya, beberapa kali kita diarahin ke jalan yang kecil dan keluar dari jalan raya. Jadi inget cerita yang aku baca di salah satu tread kaskus, google maps kadang kerja sama dengan MG, hiii serem.

Lokasi wisata pertama yang kita tuju adalah pantai Pangandaran. Kita sampai di pantai Pangandaran sekitar jam 1.00 WIB dini hari. Sesampainya di Pantai Pangandaran kita di sambut dengan bangunan gate nan megah dan mamang penjaga loket. Karena kita menggunakan mini bus kecil jadi kita membayar tiket sebesar Rp65.000,-. Selain itu kita juga ditawari penginapan. Tanpa berpikir panjang, tawaran penginapan dari mamang yang udah menghadang di pintu masuk langsung diterima sama mapa. Kita langsung menuju penginapan untuk istirahat. Tanpa bersih-bersih dulu, akupun langsung landing di atas kasur karena ngantuk banget.

Gate Pantai Pangandaran

Aku sempet kebangun tapi buat nyari hp ataupun jam tangan mager banget. Nengok ke ventilasi masih gelap, pikirku paling baru jam tigaan. Kalau udah subuh pasti dibangunin mama, jadi tidur lagi deh. Entah 3 atau 4 kali aku kebangun dan merasa waktu berjalan begitu lama. Kebiasaanku kalau piknik pasti pengen bangun pagi dan nggak pengen ngehabisin waktu cuma buat tidur. Sampai akhirnya aku kebangun lagi dan nengok ke ventilasi ternyata udah terang. Lho, mama kok nggak bangunin aku. Yups, semuanya kesiangan. Akupun bergegas buat mandi. Nggak tau ngapain aja pokoknya kita itu baru selesai dan menuju pantai jam 9.00 WIB, padahal aktivitas utama cuma mandi dan sarapan. Udah bisa dibayangin dong seperti apa keriuwehan sebuah keluarga ketika berlibur yang sebenarnya itu membuang waktu. Tapi, itulah bahagianya berlibur dengan keluarga.

Pantai Pangandaran ini berpasir hitam sama seperti pantai di jalur pantura. Tapi, dengan membayar perahu seharga Rp25.000,- per orang, kita akan diantar untuk menyebrang menuju pantai pasir putih. Di Pantai Pangandaran ini terdapat dua kapal yang ditenggalamkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Sebagaimana mimpi beliau yang ingin mendirikan museum kapal ditenggelamkan di perairan Pangandaran untuk dipamerkan kepada generasi milenial, and yups beliau berhasil memamerkannya pada saya.

Ketika naik perahu aku melihat ke dasar laut, ternyata banyak sekali ikan cantik dan kata mamangnya kita bisa melihat ikan yang lebih cantik kalau snorkeling. Dalam hati, “wahhh aku kudu snorkeling!”. Tapi karena aku nggak tau kalau di Pantai Pangandaran itu ada fasilitas snorkeling, aku nggak bawa baju renang atau persiapan apapun seperti kamera underwater. Alhasil aku pakai outfit yang semalem udah aku pakai. Untuk dokumentasi, ya kita snorkeling tanpa sibuk memotret. Semuanya tersimpan di memori kepala, hehe.

Ini adalah pertama kalinya aku snorkeling. Jadi, aku harus mengenal cara pakai alat snorkeling dan keadaan laut terlebih dahulu. Yups, snorkeling di Pantai Pangandaran tidak dipandu atau ditemenin. Penyedia jasa sewa peralatan snorkeling hanya memberikan peralatan dan pelampung, kemudian udah terserah kita mau apa dan kemana, haha. Adikku yang sebelumnya udah pernah snorkeling langsung berenang ke tengah tanpa menengok ke belakang dan mengabaikan kakaknya, huhu. Akupun sibuk mempelajari cara kerja peralatan yang nempel ditubuhku. Orang-orang lain di sekitar bercanda hihahihi dengan rombongannya, semakin membuat aku terlihat seolah kesepian. Nasib punya adek yang cuek. Aku snorkeling cuma berdua sama adikku, sedangkan mapa gabung bareng karyawan yang duduk santai di tepi pantai.

Setelah paham bagaimana cara snorkeling dan mulai menikmatinya, aku menyusul adikku berenang ke tengah. Ternyata pemandangannya lebih indah. Ikannya lebih besar-besar, jenisnyapun beragam meskipun aku nggak tau jenis apa aja, pokoknya beragam aja. Warnanyapun beda-beda, ada yang kuning, biru, putih, orange, merah. Karangnya juga indah banget kayak di akuarium (Iyalah, akuarium aja terinspirasi dari alam yang seperti ini). Ditambah ikannya menari-nari mengelilingiku. Karena begitu terpikat dengan ikan-ikan yang ada dan berenang sedikit menjauh dari permukaan, snorkelku sampai berkali-kali kemasukan air. Pantes aja adikku betah dan nggak peduli sama kakaknya, ternyata seindah ini yang membuatnya berpaling dariku, haha.

Saking asyiknya mengikuti ikan-ikan itu, aku sampai lupa waktu dan baru ngeh kalau adikku udah nggak ada. Ternyata dia udah mendarat duluan. Sekarang giliran aku yang nggak peduli sama adikku, hihi. Sebenarnya masih pengen main bareng ikan-ikan, tapi waktu yang harus memutus moment itu. Tanpa sadar, ternyata aku snorkeling sampai 2 jam lebih. Akhirnya akupun mendarat dan membilas badan biar nggak lengket. Ketika jalan kaki menuju kamar mandi kita melihat biawak, tapi kayaknya aman sih dan nggak ganggu pengunjung. Kata mama juga di sana ada monyet. Waktu aku sama adikku snorkeling, mereka sibuk main sama monyet, haha. Selesai bilas badan dan ganti baju, kitapun minta dijemput prahu yang udah dibayar buat nyebrang lagi, balik ke pantai pasir hitam.

Setelah selesai beresin pakaian yang basah, kita menyusuri jalanan di pinggir pantai sambil menuju penginapan tempat karyawan istirahat. Memang Pantai Pangandaran ini lumayan ramai dipadati pengunjung. Jika digambarkan, pertama kali masuk di pantai Pangandaran kita disambut dengan bangunan-bangunan modern, dari mulai hotel, cafe, tempat karaoke, de es be. Kalau aku nggak salah inget, lingkungan di pantai Pangandaran ini hampir sama dengan Pantai Kuta Bali. Tapi jika kita sedikit ke arah timur, kita bakal nemu pantai yang cukup sepi dan banyak perahu nelayan yang terpajang di sana. Di pantai ini pasirnya putih dan anginnyapun sepoi-sepoi apalagi kalau duduk di bawah pohon. Mengingatkanku pada pantai-pantai di Lampung.  Waahh, rasanya pengen menikmati suasana seperti itu lagi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran

Sesampainya di penginapan kita ngobrol-ngobrol sambil makan bakso. Setelah itu, rombongan mulai nyebar masing-masing, ada yang jalan-jalan sekitar pantai, ada yang shopping beli oleh-oleh, ada yang sholat, pokoknya melakukan kegiatan bebas gitu. Sekitar jam 1 rombongan mulai kumpul lagi untuk prepare perjalanan selanjutnya. Destinasi selanjutnya rombongan karyawan menuju Pantai Batu Hiu sedangkan aku sekeluarga masih bimbang, hehe. Awalnya kita mau ke Green Canyon tapi berhubung bayangan kita Green Canyon itu seperti Goa Pindul di Jogja dan harus basah-basahan apalagi mapa nggak mau kalau disuruh nyebur, jadi sambil berpikir untuk menentukan destinasi selanjutnya kita menyusuri pantai yang lain. Eh nemu pantai yang banyak pohon kelapanya kayak di tipi-tipi. Akhirnya kita markirin mobil buat foto-foto sebentar. Selama aku dan adikku foto-foto, ternyata papa ngobrol sama mang cilok. Kata mang cilok di Green Canyon itu bagus banget dan bisa pakai perahu buat menyusuri sungainya, nggak harus nyebur basah-basahan. Kata mang cilok juga belum afdol kalo ke Pangandaran tapi belum ke Green Canyon, hehe. Tanpa berpikir lama kita langsung cap cus ke Green Canyon.

Jarak dari Pantai Pangandaran menuju Green Canyon tidak terlalu jauh, sekitar setengah jam udah sampai di aliran sungai nan asri. Konon Green Canyon ini merupakan primadona wisata di Jawa Barat. Pantas saja banyak turis asing yang berkunjung ke tempat ini. Untuk menikmati aliran sungai yang segar ini, terdapat beberapa opsi dengan harga masing-masing. Berhubung kita nggak mau basah-basahan, jadi kita memilih hanya menyusuri sungai menuju sang primadona dengan perahu. Harga tiket yang kita bayar sebesar Rp200.000,- untuk satu perahu.

Nama Green Canyon ini sebenarnya plesetan dari Grand Canyon yang kemudian dipopulerkan oleh turis asing asal Prancis. Nama asli dari sungai ini adalah Cukang Taneuh. Menurut artikel yang aku baca, Cukang Taneuh ini artinya jembatan tanah. Memang benar, setelah berjalan menyusuri sungai kita akan bertemu dengan sebuah lorong seperti goa yang di atasnya ditutupi layaknya jembatan dengan tekstur dibawahnya berupa stalaktit. Jembatan ini tentunya terbentuk secara alami akibat aliran sungai yang menembus goa selama jutaan tahun.

Green Canyon (Cukang Taneuh)

Setelah masuk ke bawah jembatan rasanya seperti masuk ke goa dengan hawa yang sejuk dan di sana banyak banget baby crabs. Oh iya, dari awal naik perahupun di perahu kita banyak baby crabs yang gemesin. Ingin rasanya kubawa pulang, hehee. Di ujung goa terdapat air terjun yang mengalir cukup deras, untuk melanjutkan perjalanan, kita harus naik ke atas pastinya harus turun dari perahu dan basah-basahan. Akupun sempet turun dan foto-foto tapi adikku pengen banget renang. Berhubung aku nggak bawa baju ganti lagi, jadi aku nggak bisa nemenin dia renang. Akhirnya dia nyebur hanya berdua sama mang guidenya.

Aku dan mapa menunggu adikku di perahu sambil berkirim foto dengan rombongan yang ada di Pantai Batu Hiu dan menikmati suara derasnya air yang mengalir. Menyaksikan bayi-bayi kepiting yang bergerombol seperti membentuk kelompok dance, bergerak kesana-kemari. Kesejukan yang memberi ketenangan hingga membuatku lupa akan kenyataan bahwa besok sudah masuk kerja lagi.

2 komentar:

  1. :* tambah seru + bagus
    go ahead caa lanjutkan!! ku tunggu cerita menarik daromu lagii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you, Milea! Jangan lupa ajak Dilan untuk baca juga :D

      Hapus

Introduction

Assalamualaikum semua, selamat datang di Jejak Rosa. Nama aku Rosalia Yunisa. Keluargaku biasa memanggilku Rosa tapi teman-temanku le...