Tiga bulan berlalu, sejak aku benar-benar memutuskan untuk kembali di perantauan.
Merantau memang sudah menjadi keinginanku setelah aku menghabiskan dua tahunku di rumah bersama keluarga dan lingkungan kampung halamanku, termasuk bekerja di tempat yang lama. Banyak alasan yang membuat aku memutuskan untuk merantau kembali. Tapi aku tidak pernah menyangka, untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa pulang ke kampung halamanku. Aku merasa aku terjebak di perantauan.Rindu, setiap hari ku rasakan terhadap suasana di kampung halamanku. Aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan di sana saat ini. Apakah masih sama ataukah menjadi berbeda karena pandemi ini. Setiap hari aku memikirkan bagaimana keadaan keluargaku, saudaraku, tetanggaku, guruku, apakah mereka semua sehat, apakah mereka juga berjuang saat ini. Aku hanya bisa berharap, mereka baik-baik saja.
Aku ikuti detik waktu dengan aktivitasku, dan berharap akan kesempatan untukku pulang. Hingga tibalah pada waktu yang special, yang seharusnya dihabiskan bersama keluarga tercinta, Lebaran. Menurut wikipedia, lebaran itu pada umumnya orang-orang Islam saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengen tetangganya, juga keluarganya setelah menunaikan sholat ied. Yaa.. bukan cuma menurut wikipedia, memang pada kenyataannya pun demikian. Tapi itu di masa lampau.
Ada satu kata yang identik dengan lebaran, yaitu mudik. Sempat menjadi perdebatan tentang makna kata yang hanya terdiri dari lima huruf tersebut. Pada intinya, mudik itu pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi orang yang tinggal di kota besar.
Lebaran tahun ini semua orang dilarang untuk mudik, ya meskipun ada beberapa yang tetap bisa pergi menuju kampung halaman. Dan ini adalah yang pertama kalinya bagi aku berada di perantauan dan jauh dari keluarga di moment special ini. Ya, aku tidak bisa pulang karena untuk saat ini semua transportasi umum di tutup. Sedangkan aku tidak memiliki kendaraan pribadi. Memang ada teknologi yang membantu kita untuk saling bertatap muka. Tapi dalam hati ini ada perasaan yang berbeda. Begitu menyisak hati, bahagia sekaligus sedih. Tidak kuat rasanya mulut ini mengucapkan maaf melalui video call. Setiap mulut akan membuka dan berucap, hati ini langsung terisak. "Maafkan atas segala kesalahanku, ma.. pa".
Untuk saat ini, hanya ada dua pilihan untukku. Tetap bertahan di perantauan entah sampai kapan, atau mengundurkan diri dari tempat kerjaku supaya aku bisa pulang ke kampung halaman tanpa khawatir harus datang kembali ke perantauan.
Se nasibb....hkkksss
BalasHapus